Stranger: PDH
•▪︎•
•▪︎•
Dizy mengetuk pintu lab radio, samar-samar dia mendengarkan suara orang-orang mengobrol.
Ketika membuka pintu, beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Dizy tersenyum tipis, ini gue telat banget apa yaa?.
"Masuk Zy," ujar salah satu kakak tingkat yang ada didalam lab radio.
"Sorry guys, telat,"
Dizy duduk disamping Rayan dekat pintu masuk, karena hanya tempat itu yang tersisa.
Saat duduk, pintu kembali terbuka menampakkan sosok Bina yang tersenyum lebar.
"Hai everyone!!" Ucapnya dengan lantang, tidak mengubris wajah-wajah yang bosan menunggu kedatangannya,
Langit berdeham, "Jam berapa ni, Bin?" sindirnya,
"Maaf telat, liftnya antri Pak. Eh ada bang Anta, halo bang," Bina melambaikan tangannya pada Anta, anggota senior yang telah lengser dari komunitas radio.
Kemudian, Bina duduk didekat Dizy.
"Kok ada bang Anta si sama antek-anteknya," bisik Bina pada Dizy yang hanya dibalas dengan gelengan kepala, tanda dia juga tidak tahu,
"Ya udah, karena udah pada kumpul lengkap. Rapatnya dimulai aja kali yaa biar ngga kelamaan," ujar Langit memulai membuka rapat.
•▪︎•
Selesai rapat, satu per satu anggota komunitas radio meninggalkan lab. Tinggal tim inti bph dan juga kakak tingkat yang sepertinya enggan pergi,
"Ngobrol-ngobrol dulu kali kita," kata bang Anta, "Gimana nih sama tugas-tugasnya? aman kan?" tanyanya,
"Aman bang," Dizy menjawab,
"Sejauh ini aman si bang, tapi ya itu ngatur anak-anaknya susah," Langit curhat sedikit,
bang Reza tertawa, "Berat yee jadi ketua?" tanyanya,
"Sedikit bang, tapi dinikmatin aja,"
bang Anta memberikan jempol.
Obrolan mereka berlanjut hingga hampir jam 2, Langit, Rayan, Dizy, dan Bina sedari tadi sudah saling mengkode lewat tatapan agar obrolan mereka segera selesai,
Tapi emang dasar senior mereka ada aja topik yang diomongin, membuat mereka ber-empat tertawa garing untuk menanggapi jokes dari senior mereka.
"Ehem jam 2 nih," celetuk Rayan, tetapi tidak ada tanggapan dari senior mereka,
Bina jadi kesal dan ikut-ikutan mengkode, "Ehem panas nih nanti jalanan," katanya,
Masih belum ada tanggapan.
"Ehem, kayaknya bakal macet nih," giliran Dizy yang berbicara,
Terpantau, belum ada tanggapan.
Langit yang sedari tadi diam juga ikut mengkode, "Ehem haus," katanya dengan tangan yang mengusap-usap tenggorokannya,
"Lo pada kenapa sih?" Akhirnya bang Anta sadar akan keanehan juniornya,
Dizy menghela nafasnya pelan, "Bang Anta ngga ada kelas bang?" tanyanya,
"Kita bertiga libur hari ini," bang Reza menjawab,
"Lah trus ngapain ke kampus bang?" tanya Bina sedikit ketus,
"Gabut aje,"
"Kita mau ambil pdh bang di Depok," Langit bersuara,
"Ohh bilang dong daritadi, kalo mau pergi mah pergi aja," kata bang Anta santai,
"Kita mau pergi tapi ngga enak sama abang," jelas Rayan,
"Elah santuy aje."
•▪︎•
"Gue sama Bina, Dizy sama lo Ray," jelas Langit,
"Hmm,"
Saat sampai depan gerbang kampus, tempat dimana Bina dan Dizy menunggu. Mereka berdus memberikan helm,
"Seriously, gue sama lo Ngi?" tanya Bina tidak terima dia dibonceng Langit,
Langit berdecak sebal, "Ngga usah protes, cepetan naik," katanya dengan nada kesal,
Sedangkan Dizy telah selesai memakai helm dan mengambil tempat di jok belakang motor Rayan,
"Lo bisa baca maps kan Zy?" tanya Rayan,
"Bisa, kenapa?"
"Gue sama Langit kurang tau jalannya, kemarin pake maps juga," Rayan memberikan handphonenya pada Dizy yang telah ia atur arah tujuan mereka,
"Pegang Zy, nanti lo arahin gue kemananya ya. Tapi ngga sekarang, kalo disini mah masih tau arahnya,"
"Oke-oke,"
"Woi! Siapa duluan yang jalan?" Teriak Langit,
"Lo duluan dah, gue ngikut dibelakang. Nanti gue salip," ujar Rayan mulai menyalakan motornya,
Langit memberikan jempol, kemudian menjalankan motornya, disusul Rayan dibelakang.
Langit dan Rayan beberapa kali melakukan aksi kejar-kejaran yang membuat Bina dan Dizy agak kesal,
"Jangan ngebut-ngebut anjir," gerutu Bina yang tidak dihiraukan Langit,
Saat lampu merah, mereka bersisian.
"Gila lo pada, inget lo bawa nyawa anak orang," celetuk Dizy,
"Tau yee, gue ngga mau mati muda anjir," ujar Bina memukul punggung Langit,
Langit mengaduh kesakitan, pasalnya Bina memukul punggungnya cukup keras.
"Buset, Bin. Kasar amat sih elah,"
"Salah lo sih,"
Rayan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sorry," bisiknya.
•▪︎•
Mereka tiba ditempat pembuatan PDH pada pukul 5 lewat akibat jalanan yang macet, kemudian langsung memeriksa satu per satu kemeja tersebut.
Takut ada kesalahan penulisan nama, jadi mereka tidak perlu bolak balik untuk memperbaiki kesalahan.
Untungnya PDH tersebut semua aman, tidak ada kesalahan cetak dan cetakannya cukup rapih.
"Langsung balik?" Tanya Rayan,
Langit, Bina, dan Dizy yang siap-siap memakai helm menghentikan aksi mereka,
"Gue si langsung balik, ada urusan lain. Lo wajib anterin gue yaa Ngit!" Ujar Bina memerintah Langit,
"Elah, dikira gue kang ojek kali,"
"Dih lo dah janji yee mau nganter gue pulang,"
"Iye-iye. Lo nganter Dizy balik kan Ray?" tanya Langit pada Rayan,
"Eh ngga usah, lo anter gue ke halte terdekat aja. Kasian lonya kalo nganter," Dizy menjawab pertanyaan Langit sebelum Rayan bersuara,
"Loh jangan gitu Zy, dah malem anjir, jauh juga lo baliknya," kaya Bina tidak setuju dengan perkataan Dizy,
"Gue anter balik, lagian gue sekalian emang mau ke daerah lo," jelas Rayan,
"Oh gitu, ya udah."
"Pisah disini nih kita?" tanya Bina,
"Bajunya siapa yang bawa?" Dizy menatap baju PDH yang ada dihadapan mereka,
"Gue aja. Gue taruh di lab, rumah Bina kan deket kampus tuh," kata Langit,
"Oke kalo gitu, cabut sekarang kali, keburu malam," ucap Rayan,
Mereka melakukan tos untuk berpisah.
"Hati-hati yaa!"
"Berkabar kalo dah pada sampe rumah,"
"Oke."
•▪︎•
Jalan menuju daerah rumah Dizy macet parah. Padahal ini bukan malam minggu, sehingga membuat mereka lama dijalan.
Rayan yang lapar dan butuh tenaga, mengajak Dizy mampir ke McD.
Dizy yang sedang menyantap ayamnya, terpaku menatap Rayan yang makan dengan lahap,
"Laper bange yaa, Ray?" tanyanya,
Rayan bergumam, "Gue tadi ngga sempet makan siang,"
"Tau gitu kenapa ngga mampir daritadi, ini udah jam berapa tapi lo baru ngisi perut," Dizy sedikit khawatir pada lambung temannya itu,
Rayan tersenyum kecil, "Gue sempet ngemil kan di lab tadi, thanks to you karena bawa cemilan," katanya berterima kasih pada Dizy,
"Ya elah ciki doang mana ngenyangin,"
"Setidaknya perut gue ke isi dikit kan, Zy?"
"Iyaa si. Yaudah lo lanjut makan lagi, ngga usah buru-buru, gue udah ijin pulang agak malam,"
"Okee, thank you."
Sebenarnya Dizy sedikit canggung dengan Rayan, karena mereka tidak terlalu dekat.
Mereka dekat ketika satu komunitas dan sama-sama punya tugas yang sering membuat mereka bekerja sama.
Mereka juga sekelas hanya satu atau dua mata kuliah yang sama.
•▪︎•
•▪︎•
E.N.D
Aku izin pakai foto buat kalian yang merasa memiliki hak foto tersebut yaa, karena aku ngambil di pinterest. Terima kasih sebelumnya,
Terima kasih juga sudah membaca cerita ini.
Sampai bertemu di cerita pendek selanjutnya👋🏻!!
Komentar
Posting Komentar