Stranger: Baby Sitter part 2


Ashel mengirim pesan lewat Line pada Rena, menyalurkan rasa kesalnya karena ulah Asa saat diruang bermain.



Ashel memilih tidak membalas pesan tersebut, Rena rese. Ashel merebahkan dirinya dikasur kamar yang hampir sebulan ini dia tempati,

Dia senang bekerja disini, meskipun hanya jadi baby sitter. Setidaknya Mbak Inge dan suaminya sangat baik, pekerja lainnya juga baik.

Ashel jadi nyaman, tapi Ashel harus mencari pekerjaan lain karena dia hanya sementara disini.

Ashel memejamkan matanya saat rasa kantuk menghampiri. Namun, suara ketukan dari pintu kamarnya membuat matanya terbuka kembali.

Ashel membuka pintu, dilihatnya ada Asa berdiri sedikit kaku didepan pintu kamarnya,

"Ada apa ya?" Tanya Ashel dengan nada yang sesopan mungkin,

"Makan malam, gue disuruh Tante Inge buat manggil lo." Ucapnya, kemudian langsung berbalik menuju ruang makan,

Ini salah satu yang membuatnya nyaman disini, Ashel selalu diajak makan bersama, dari sarapan hingga makan malam. Ashel berasa jadi anak pertama Mbak Inge dengan suaminya,

•▪︎•

Pukul 01.20 WIB, Ashel terbangun dari tidurnya, dia merasa haus. Tapi, dia juga mengantuk.

minum atau lanjut tidur? hmm haus tapi mager bangun.

Setelah berdiam sebentar, akhirnya Ashel memilih untuk bangun. Berjalan keluar kamar menuju belakang dapur, disana terdapat dus botol air minum.

Namun, langkahnya terhenti kala ia melihat Asa sedang duduk di stool meja bar, ada asap keluar dari mulutnya.

ngevape kok didapur, tengah malam lagi.

Ashel jadi membatalkan niatnya untuk mengambil air, dia membalikkan badan kembali ke kamar. Namun, suara Asa menghentikan langkahnya.

"Kenapa balik?"

dia nyadar toh ada gue. "Takut ganggu," Jawab Ashel pelan, melihat Asa yang menunduk, jangan-jangan dia mabuk lagi. Gila, berani banget mabuk dirumah tantenya.

Asa bangun dari tempatnya, berjalan menghampiri Ashel. Menempatkan dirinya didepan Ashel, dengan jarak yang cukup dekat membuat Ashel memundurkan badannya sedikit.

Ashel mendongak, memejamkan matanya saat Asa membuang asap vape ke wajahnya. Sialan nih cowo.

"You look beautiful." Benaran mabuk ni anak, Ashel terbatuk pelan karena tidak sengaja menghirup asap vape Asa,

"I'm not drunk." Jelas Asa seolah mendengar kata hati Ashel,

Asa maju selangkah, membuat Ashel mundur selangkah. Asa tersenyum miring, "Takut?"

"Ngga, permisi saya mau ambil minum." Ashel memang memakai kalimat formal, karena dia disini bekerja bukan teman sekolah Asa.

Saat Ashel bergerak maju berniat melewati Asa, lengannya ditahan.

"Menghindar?"

"Lepas!"

Asa memojokkan Ashel ke dinding, mengurungnya hingga membuat Ashel panik. Takut kejadian yang lalu terulang,

"Lo takut." Bisik Asa,

"Kalo lo berani ngelakuin hal aneh, gue bakal teriak." Ashel menatap Asa marah meski ia lebih banyak takutnya, menghilangkan bahasa formalnya,

emang harusnya gue ngga perlu sopan sama dia. Dianya aja ngga ada sopan santun.

Tersenyum miring, Asa sama sekali tidak takut dengan ucapan Ashel, "Silahkan. Gue ngga takut."

Kalimat itu membuat nyali Ashel ciut, emang ngga ada takut-takutnya nih anak.

Asa menunduk, mendekatkan wajahnya pada Ashel. Raut wajah takut Ashel membuatnya senang, tapi ia mengurungkan niatnya, Asa berbalik meninggalkan Ashel yang masih terpaku di tempatnya.

She's cute.

•▪︎•

Sebulan dari kejadian didapur, Ashel sebisa mungkin menghindari Asa.

Asa yang menyadari hal itu, tidak ambil pusing. Ia justru senang, main kucing-kucingan dengan Ashel.

"Kak Asel." Panggil Inara,

"Iyaa Inara? Ada apa?"

"Kata Bunda, lusa Kak Rena bakalan datang, jadi Kak Asel bakalan pergi."

Ashel tersenyum tipis, melihat Inara yang sepertinya sedih, "Kamu sedih?" Inara mengangguk, "Kan kita masih bisa main bareng, kalo Kak Rena ngajak Inara keluar jalan-jalan. Nanti, kita ketemu dan main bareng."

"Iyaa sih. Tapi, aku udah nyaman sama Ashel. Kak Rena kadang ngga asyik diajak main."

Ashel tertawa pelan, "Sini peluk aku." Ashel merentangkan tangannya, membuat Inara menghampirinya dan memeluk erat dirinya,

"Atau ngga, Kakak sama Kak Rena jadi teman main aku aja, biar makin seru."

"Ngga bisa, sayang. Kakak ada urusan lain." Iya, Ashel memang sudah mendapat pekerjaan, dia lolos interview di salah satu penerbit buku. Jadi, dirinya sedang mempersiapkan diri untuk bekerja di penerbit buku.

"Kak Asel ngga asyik." Inara cemberut,

"Maaf yaa, Kakak janji, nanti kalo kita ketemu lagi, Kakak bawain mainan."

"Beneran? Janji loh Kak." Inara mengacungkan jari kelingkingnya,

Ashel tertawa kecil, "Iyaa, Inara. Kakak janji." mengaitkan jari kelingkingnya,

"Asyik aku dapat mainan dari Bang Asa sama Kak Asel, yeayyy."

Suara pintu terbuka mengalihkan padangan mereka berdua, Asa mengerutkan keningnya. Menatap heran Ashel dan Inara yang berpelukan,

"Ada apa nih, kok peluk-pelukkan?" Tanyanya,

Inara menghampiri Asa, meminta gendong, "Kak Asel mau pergi." Asa menatap Ashel, mencoba mengirim sinyal agar perempuan itu menjelaskan maksud dari perkataan Inara,

Tapi, sayangnya. Ashel yang masih dalam mode menghindari Asa. Menyibukkan diri dengan merapihkan mainan Inara.

Asa berdecak kesal, kemudian kembali menatap Inara yang menunduk sedih, "Pergi kemana?"

"Kan Kak Asel cuma sementara jagain aku, gantiin Kak Rena. Kata Bunda, Kak Rena udah mau datang, jadi Kak Asel bakalan pergi. Terus aku sedih."

ah jadi dia cuma gantiin temannya.

•▪︎•

Ada yang berbeda ketika Asa menaiki tangga rumah tantenya. Sayup-sayup dia mendengar suara yang tidak familiar dikupingnya,

Ia menuju ruang bermain milik Inara, mengintip sedikit untuk memastikan sesuatu.

Asa membuka pintu ruang bermain itu lebar, membuat seseorang yang berada diruangan tersebut terkejut. Asa menatap bingung perempuan yang belum pernah ia lihat itu

"Bang Asa!" Suara Inara yang baru keluar dari kamar mandi mengalihkan pandangan Asa.

"Hei. Kok bukan Kak Asel yang main sama kamu?" Tanya Asa,

Inara menatap Rena, kemudian menatap Asa kembali, "Kan Inara udah ngasih tahu ke Abang, kalo kak Asel pergi. Soalnya, kak Rena udah balik ke sini."

Asa menganggu mengerti, dia bohongin gue. Ashel mengatakan bahwa dia tinggal seminggu lagi disini, nyatanya dia berbohong.

Karena Asa harus pergi selama 4 hari untuk mengurus pekerjaannya. Asa cukup kecewa, karena sebenarnya dia sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaannya agar bisa kembali ke rumah tantenya sebelum Ashel pergi.

Asa berdecak pelan, menyadari bahwa Ashel benar-benar menghindarinya dan tidak ingin berhubungan dengannya lagi.

perempuan itu. Tunggu aja, gue bakal nemuin lo Shel.

•▪︎•

E.N.D

see in another story!!

next!

terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini


Komentar

Postingan Populer