midnight, skateboard, and him.
Ditengah gelapnya jalan yang hanya diterangi lampu jalanan, Kanya berjalan menyusuri jalanan disekitar komplek rumahnya, berjalan tak tentu arah karena pikirannya yang kosong. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 malam lewat, dan Kanya memilih berkeliaran keluar rumah. Saat matanya asyik menatap sekitarnya, tak sengaja dia melihat seorang laki-laki bermain skateboard sendirian ditengah lapangan luas, Kanya berhenti sejenak.
tiba-tiba laki-laki tersebut berhenti dan menatap heran Kanya, mereka saling bertukar pandang selama 2 menit karena kemudian Kanya langsung melanjutkan perjalanannya, sedikit merasakan perasaan aneh saat mereka saling bertatap.
Kanya mendengarkan suara skateboard dibelakangnya, membuatnya berpikir bahwa laki-laki tersebut mengikutinyaa, namun bukannya mempercepat langkah kakinya, Kanya tetap berjalan pelan.
"Ngapain jam segini masih diluar?" Tanya laki-laki tersebut saat berhasil menyamakan langkah mereka,
"Nyari angin segar." Jawab Kanya singkat,
"Nggak takut lo malam-malam berkeliaran sendirian?"
"Tempat ini dijaga ketat kali, nggak akan ada orang jahat."
"Nggak ada yang tahu kali, kejahatan bisa terjadi kapan aja dan dimana aja."
Kanya sedikit terusik dengan kehadiran laki-laki tersebut, tapi tetap membiarkannya mengikuti langkahnya.
"Lo mau kemana dah?" tanya laki-laki itu lagi,
Kanya menghentikan langkahnya, menatap sebal laki-laki tersebut, "Bisa diem nggak si? nggak usah kepo deh, Bintang!" katanya pada laki-laki tersebut yang tak lain Bintang, tetangga menyebalkan yang tinggal diseberang rumahnya.
"Gua nanya baik-baik padahal, sinis banget. Lagi pms ya?"
"Kalo iya kenapa? ada masalah?"
"Ya elah, Nya. Santai kali. Daripada marah-marah mending gua ajarin main skateboard, mau nggak?" Ajak Bintang mengangkat skateboardnya,
"Ogah, nggak bisa gua naik gituan." Tolak Kanya, walaupun sebenarnya dia ingin,
Bintang berdecak sebal, "Gua ajarin, Nya. Nggak akan jatuh, yuk!" Bintang menaruh skateboardnya didepan kaki Kanya, memberi kode agar kaki Kanya menginjak skateboardnya,
"Kalo gua jatuh gimana?" Kanya sedikit was-was karena sebenernya dia punya kenangan buruk dengan skateboard,
"Pegangan sama gua makanya, udah tenang aja gua jagain, nggak akan gua biarin jatuh. Sekarang coba letakin kaki kanan lo diatas skateboard."
Kanya menginjak skateboard Bintang dengan kaki kanannya, "Good! abis itu coba dorong pake kaki kiri, pelan-pelan aja." Kanya mengikuti perintah Bintang, tak lupa kedua tangannya yang dipegang Bintang yang berjalan mundur,
"Nah, bagus! Tuh bisaa." Ujar Bintang mencoba melepaskan tangannya,
"Eh jangan dilepas dong, gua takut."
"Nggak akan jatuh, coba sendiri, gua tunggu didepan." Bintang berjalan sedikit jauh, "Nah ayo, Nya. Coba jalan kesini."
walaupun sedikit takut Kanya tetap mencoba menaiki skateboard Bintang sendirian, "Eh! Eh! Eh! Bisaa, Tang! Anjir gua bisa dong." Ujar Kanya senang saat berhasil menghampiri Bintang dengan skateboardnya,
"Apa gua bilang, nggak jatuh kan?"
malam itu, mereka menghabiskan hampir 1 jam untuk bermain skateboard karena Kanya yang ketagihan untuk terus belajar bermain skateboard.
**
Saat perjalanan pulang, Bintang mengajak Kanya untuk menaiki skateboardnya bersama, walaupun sempat menolak karena takut skateboard milik Bintang patah. Namun, pada akhirnya Kanya mengiyakan ajakan Bintang,
"Skateboard gua mahal ,Nya. Nggak akan patah walaupun dinaikin dua orang." Ujar Bintang saat meyakinkan Kanya,
"Gimana? Seru kan main skateboard?" Tanya Bintang saat mereka telah sampai didepan rumah masing-masing,
"Asli seru! Gua nyesel kenapa nggak dari dulu aja gua minta diajarin main skateboard sama lo."
"Tapi belum tentu juga si gua mau ngajarin lo." Ujar Bintang sedikit menggoda Kanya,
"Ngeselin lo! Dah ah sana masuk, bahaya kalo ada tetangga yang liat. Bisa dijadiin bahan gosip satu komplek."
"Ya elah omongan tetangga lo pikirin."
"Yeee.. by the way, thanks yaa sekali lagi."
"Iyaa santai, kalo masih mau diajarin gua siap kok. Gua cuma becanda soal tadi."
"Gua tau kok, kan lo emang suka bikin gua kesel aja."
"Tuh tau." Bintang tertawa pelan,
"Yaudah gua masuk ya, goodnight Bintang." Kanya pamit berjalan masuk kedalam rumahnya,
"Kanya!" Kanya berbalik saat Bintang memanggilnya,
Bintang menatap Kanya penuh arti lalu tersenyum, "Happy birthday! Gua tau hari ini ultah lo kan? Happy birthday, Kanya. Gua mungkin orang paling menyebalkan yang ada dihidup lo, tapi orang menyebalkan ini mau ngucapin selamat ulang tahun ke lo, pengen ngasih tau ke lo bahwa hidup itu nggak seburuk yang ada dipikiran lo. Banyak hal menyenangkan yang belum lo lihat dan rasakan, dan orang menyebalkan ini siap menamani lo buat melihat hal-hal itu. Itupun kalo lo mau, jangan terlalu memikirkan omongan orang lain tentang kita. Karena yang tahu siapa diri kita yang cuma kita sendiri, orang lain hanya ngelihat apa yang mau mereka lihat. Sekali lagi happy birthday cewek sensitif." Setelah mengatakan itu, Bintang berjalan mundur dan memberi kode untuk menelponnya jika Kanya ingin mengatakan sesuatu padanya.
~the end~.

Komentar
Posting Komentar