Untuk Ibu Saya Tercinta

Sosok Ibu Tangguh di Kehidupan Saya

Rosmini, sosok Ibu yang sangat berharga dalam kehidupan Saya. Wajahnya yang bulat serta hidung yang tidak terlalu mancung namun juga tidak pesek membuatnya tak terlihat tua, meski sudah menginjak umur 40 tahun. Rambut pendek sebahunya selalu ditutupi dengan jilbab instan yang dipakainya, salah satu yang membuat Ibu Saya terlihat seperti Kakak Saya, begitu orang-orang berpikir ketika melihat kami berdiri bersampingan. Tak ada yang menyangka memang, wanita yang tingginya hanya 150-an itu adalah seorang ibu yang sudah memiliki satu anak. Bentuk tubuh Ibu saya memang tak sekurus artis-artis Korea Selatan, namun setidaknya parasnya yang elok dan alami itu mampu membuat Ayah Saya jatuh cinta.

Setiap hari sebelum Matahri muncul dipermukaan, Ibu Saya sudah bangun dari tidurnya yang lelap, meninggalkan kasur empuknya dan juga Ayah yang masih terlelap. Membuka warung sekaligus membuat sarapan. Walaupun sedikit kerepotan karena harus melakukan dua kegiatan sekaligus tak membuat Ibu Saya mengeluh, dan itu membuat Saya sebagai anak berusaha untuk bangun pagi juga agar bisa membantu Ibu Saya, walau hanya dengan menjaga warung. Sehingga Ibu Saya bisa membuat masakan lezat dan bergizi untuk kami sekeluarga seperti ikan dan ayam bakar, sayur asem dan makanan enak lainnya. Saya sangat menyayangi Ibu Saya, walaupun tidak bisa mengatakan hal tersebut secara langsung tapi saya mencoba untuk menunjukkannya lewa tindakan. Seperti membantu mencuci piring, menggosok baju, menyapu rumah, dan menjaga warung. Ibu Saya salah satu Ibu yang tangguh dan selalu sabar. Meski sering kali Saya membuat Ibu kesal, tapi Ibu tak pernah marah, pernah sih sesekali marah tapi itu tak berlangsung lama. Berbeda dengan Ayah Saya yang sifatnya keras. Ibu Saya termasuk Ibu yang pengertian dan sangat perhatian pada keluarganya. Hanya satu impian Saya, yaitu bisa membuat Ibu Saya bangga sekaligus selalu tertawa dan bahagaia.

Dulu ketika Saya masih duduk dibangku SD (Sekolah Dasar), bisa dibilang hidup Saya tidak terlalu bahagia. Kedua orangtua Saya bertengkar hebat dan hampir saja berpisah. Masa-masa kelam bagi Saya, disaat umur Saya yang belum beranjak belia Saya sudah dihadapkan dalam situasi yang rumit. Belum mengerti apa-apa, tapi tangisan dan pertengkaran kedua orangtua Saya membuat Saya sedikit paham  bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Ditambah Saya tidak memiliki seorang Kakak untuk bersandar dan berbagi cerita, sehingga membuat memendam perasaan sedih sendirian dan juga menyemangati diri sendiri. Tapi berkat perjuangan dan kesabaran ibu saya dan juga berkat orang-orang terdekatnya yang memberikan semangat untuk mempertahankan rumah tangganya hal tersebut tak terjadi. Hal itu membuat saya tak ingin melihat kesedihan lagi diwajah cantik ibu saya. Ibu aku sayang ibu, maaf belum bisa membalas jasamu yang begitu besar dalam hidupku dan terimakasih telah menjadi ibu yang paling kuat, sabar, dan perhatian pada keluargamu ini. Terimakasih telah merawat aku sejak kecil sampai dewasa kini. Love U.

Komentar

Postingan Populer